What I think today

Hari ini kulia perdana sejak libur selama ramadhan dan lebaran. Saya pikir, jamak mahasiswa akan mengatakan, baik S1 ataupun S2, hari yang masih seharusnya santai dan diisi halal bi halal saja tanpa presentasi. Hahaha

Well, sejak masuk di institut swasta, rasanya memang berbeda dengan kuliah di universitas negeri. Hampir seluruh semangat menguap begitu kembali (karena sebelumnya pernah s1 selama 2 semester di institut swasta juga). Semangat yang dahulu saya miliki seperti sirna ditelan keadaan diri.

Mindset saya selalu mengatakan, ah kemandirian itu tantangan, tidak apa-apa kita memilih hal sulit asal kita tidak merasa keminter karena menganggap hal tersebut remeh temeh, oleh karenanya kita bertekat keras untuk belajar lebih banyak. Setelah bertahun-tahun menghabiskan usia untuk belajar mengatasi keadaan seorang diri, rasanya saya selalu ingin melakukan hal yang lebih menantang (menurut pandangan saya).

Saya selalu berpikir bahwa, ya kuliah di kampus sebelumnya membuat saya pribadi termotivasi bahkan sangat. Melihat dosen-dosen saya yang hebat dan kebanyakan lulusan luar negeri, membuat saya ingin rasanya seperti mereka. Bukan karena gengsinya, tetapi pikiran saya memang ingin menantang diri sendiri sekuat mungkin untuk ditempah begitu banyak pengalaman-pengalaman.

Tapi apa mau dikata, semua keadaan berubah. Meskipun begitu, bukan saya namanya, kalau tidak mencari dosen idola agar bisa mencari cela semangat belajar. Di kampus sekarang, saya lebih suka tipe dosen yang disiplin, keras, galak dan tentu saja berwawasan. Baik itu disiplin dan galak dalam urusan tugas, atau wawasan luasnya yang membuat saya cercengang berkat kelihaiannya dalam bertutur atau alasan lain.

Seperti hari ini; mata kuliah ulumul hadits. Jujur, saya dengannya (hadits) seperti jauh panggang dari api. Sangat jauh menjangkaunya, meskipun sejak kecil pesantren adalah rumah bagi saya. Entah karena memang dulu hobinya cuma baca novel dan bikin ceritakah sewaktu di pesantren, sehingga saya tidak bisa sepintar teman-teman saya yang mengambil jurusan agama.

Urusan ilmu hadits, rasanya memang bukan maqom saya. Apalagi kalau sudah urusan takhrij hadits, duh gusti! Sejak di bangku Aliyah, saya suka pelajaran hadits. Tapi kalau sampai tahap takhrij, saya belum sanggup. Hehehehe

Beruntung saya diampuh dosen dari luar (dosen yang juga mengajar di universitas negeri).

Presentasi saya tentang takhrij hadits hari inj tentang hadits Rasulullah yang berbunyi “الدين نصيحة” agama adalah nasihat.

Ketika itu seorang sahabat bertanya “لمن يارسول الله” bagi (hak) siapa ya Rasulullah?

Rasulullah menjawab “لله ولكتابه ولرسوله ولامة المسلمين وعامتهم”

Kalau diterjemahkan tekstual artinya begini : ” nasihat itu haknya Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan pemimpinnya”.

Hmmm…hampir menuai perdebatan karena penafsiran penggunaan huruf “ل” ,apakah lam tamlik (yang berarti kepemilikan) ataukah lam yang berarti untuk?.

Kalau diterjemahkan bebas, bisa jadi haknya Allah atau untuk Allah. Permasalahannya, kalau haknya Allah itu sudah pasti, tetapi masalahnya di arti kedua. Apakah masuk akal jika nasihat itu untuk Allah? Ternyata perdebatan ini memang tingkat ulama kata bapak dosen. Hihihi

Dan jawaban beliau membuat saya merasa ciut dan merasa sangat fakir ilmu. Usut punya usut, akhirnya pertanyaan di kepala saya menguap setelah mendengar jawaban beliau.

“Memang benar itu adalah lam tamlik, kepemilikan, tetapi bukan untuk Allah terjemahnya. Nah kalau ada yang rancu semacam ini maka sebenarnya sebuah hadits haruslah di ta’wil agar penjelasannya dapat dipahami dengan benar. Di ta’wil bagaimana? Ya di ta’wil begini

لمن, لمن امن لله و لكتابه ولرسوله ولامة المسلمين وعامتهم.

Maka artinya, nasihat itu untuk siapa? Untuk orang mukmin yang beriman kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada kaum muslimin dan pemimpinnya.

Ow, begitu njeh pak.

Advertisements

Kehujanan Rindu

Hujan siang ini memelukku rindu. Apalagi semalaman aku memimpikanmu.

Menawar pikirku, haruskah terus menunggu ataukah menyudahimu?. Kau pasti sangat mengenalku, perempuan yang tak mudah menukar orang dalam hidupku.

Kupeluk luka dalam balutan rasa bersalah. Biarkan aku belajar menerima kepahitan semua.

Kau tak perlu memintaku. Yang kuingin tak lain doamu. Agar aku mampu membunuh semua rindu.

Dan kau bisa tenang menentukan pilihanmu.

Gresik, 22 April 2018

Integritas Yang Diuji

Bu guru percaya teori evolusi?

Bu guru percaya teori big bang?

Bu guru percaya adanya black hole?

Ceritakan sejarah atlantis bu!

Bulan terbelah dalam sejarah mukjizat nabi itu terbelah dalam arti sebenarnya atau tidak bu?

Benarkah langit berlapis tujuh seperti yang digambarkan dalam perjalanan isra’ mi’raj nabi bu?

Bagaimana gambaran melawan ilmu dengan ilmu bu?

Kalau ilmu hitam (santet) tidak bisa dikalahkan dengan ilmu kedokteran, berarti bisahkah orang yang ahli agama menjadi orang sakti dan punya ilmu putih agar bisa menyelamatkan orang bu?

Apakah planet dalam tata surya kita masih tetap tujuh bu?

Apakah peristiwa isra’ mi’raj itu bisa dibuktikan dengan sains bu?

Dan segudang pertanyaan lain yang sesungguhnya sangat membuat saya tersenyum senang dan bersemangat sepanjang hari untuk mengajar.

Selasa kemarin adalah jam favorit saya sepanjang mengajar Sejarah Islam yang baru memasuki usia hampir satu tahun, semenjak saya mengajar. Bagaimana tidak? Ini adalah pertanyaan kritis yang renyah yang bisa saya nikmati dan serap semangatnya (meskipun dalam kondisi sakit) hingga jam terakhir mengajar pada hari itu.

Saya bukan termasuk orang yang pandai, hanya saja saya menginginkan belajar sepanjang waktu. Ketika dihadapkan pada kenyataan harus pulang dari perantauan sekitar sepuluh bulan lalu, dan saya harus terjun di dunia pendidikan. Saya terus saja mengutuk diri sendiri tetapi terus pula mempersiapkan diri untuk ini. Dua hal yang bertentangan memang.

Saya tidak pernah mau menjadi guru, bukan karena tidak PeDe. Karena dalam benak saya terus saja menanamkan bahwa dunia pendidikan begitu membosankan. Begitu-begitu saja. Tidak ada tantangan. Tapi, bukankah tantangan dan hal sepele adalah dua hal yang bisa kita nilai dari sudut pandang kita pribadi?

Karena dibesarkan di antara media cetak, dan setiap sudut rumah adalah koran, majalah, tabloid, komik dll, sejak kecil ketika seseorang bertanya pada saya, mau menjadi apa nanti? Selalu jawaban saya menjadi wartawan. Tidak ada sama sekali dalam bayangan saya menjadi pendidik dan pengajar. Dalam pandangan saya menjadi wartawan itu keren😄, dan memang keren sih!.

Tetapi dalam hidup, nilai diri atau integritas seseorang selalu diuji dari hal-hal kecil disekelilingnya. Apakah ia bisa mengatasi atau malah sebaliknya. Saya sedikit demi sedikit menerima kenyataan yang ada. Meyakinkan pada diri sendiri bahwa integritas saya sedang diuji saat ini

Oke!, saya akan menjadi guru tetapi bukan guru yang biasa. Saya akan mengajarkan Sejarah Islam tetapi bagaimana caranya agar tidak membosankan. Saya harus lebih banyak membaca. Saya harus lebih banyak kreatif menemukan cara.

Ternyata bukan hal mudah (tu kan, memang tidak ada yang mudah! Saya saja yang terlalu meremehkan sesuatu🤔🙏), membuat anak-anak dengan jurusan berbeda tapi keduanya bisa menyukai pelajaran Sejarah Islam. Bagi saya mengajar Sejarah Islam adalah tangan panjang saya untuk menggandeng semangat generasi muslim milenial dalam membangun peradaban. Ahemm!

Segala cara saya lakukan agar anak-anak menyenangi cerita-cerita saya. Membuat mereka penasaran ingin tahu lebih banyak, membuat mereka tidak takut untuk bertanya dan selalu kritis, juga membuat mereka tidak hanya duduk berdiam diri mendengarkan saya bercerita hingga mengantuk. Dengan begitu saya bisa terus memutar otak untuk kreatif menemukan cara.

Sekali waktu, mereka saya ajak menyanyi. Lagu sederhana dan terdengar kekanak-kanak an yang saya ubah syairnya. Tetapi lumayan menyenangkan untuk membuka jam pagi, hitung-hitung menambah semangat.

If you happy and you say love history.

If you happy and you say and you wanna really say. if you happy and you say love history.

If you happy and you think value of history.

If you happy and you think, and you wanna really think. If you happy and you think value of history.

If you happy and you like your class of history.

If you happy and you like, and you wanna really like. If you happy and you like your class of history.

If you happy and you learn event of histoy.

If you happy and you learn, and you wanna really learn. If you happy and you learn event of history.

And….voila! Benar-benar berhasil. Disamping melek, mereka menjadi semangat. Barulah setelah itu saya mulai mengetes ingatan mereka di pertemuan sebelumnya, lalu lanjut ke penjelasan Sejarah Islam berikutnya.

Tapi..sepertinya pertanyaan di atas banyak yang tidak berbauh sejarah ya? Eits, tunggu dulu. Tidak ada yang tidak berkaitan di dunia ini, selama kita kreatif menangani.

Saya selalu sengaja menjadi tangan panjang yang berbeda ketika memasuki kelas dengan jurusan berbeda. Di kelas IPA saya selalu tidak henti-henti menyenggolkan urusan sains dengan sejarah, urusan sains dengan agama, juga urusan sains dengan bahasa. Sehingga timbullah pertanyaan-pertanyaan tak terduga.

Di kelas IPS yang memang sudah seharusnya pelajaran sejarah menjadi jiwanya, belum tentu seperti yang terlihat dari luarnya. Cukup menguras tenaga agar bisa mengatasi tingkah mereka yang cenderung lebih atraktif dibanding tetangganya😃.

Sesungguhnya semakin kesini saya semakin berpikir, bahwa kita harus menjadi lentur agar misi baik kita berhasil tersampaikan dan bisa diterima di manapun tempatnya.

Terlalu kaku membuat kita seperti bongkahan batu, tak bisa menempati ruang jika ruang tersebut tidak lebih besar dari batu itu sendiri. Sehingga akan selalu tampak lebih kecil.

Lain halnya dengan air. Ia selalu pas dan terlihat sama persis dengan bejana yang ditempatinya, sehingga di manapun tempatnya ia selalu memenuhi ruang yang ada.

Salam kreatif!

Saya Guru, Saya Belajar.

Hasil kreatifitas anak didik saya, ini disebut trik pertama.

-perpaduan antara sejarah dan bakat seni mereka-😊.

Keliping Koran dan Soft File digital : Potret Masyarakat Pesisir Ujung Timur (bag.1)

Mengingat 20 tahun lampau ketika usia saya baru menginjak 8 tahun, saya sudah sangat gemar sekali membaca dan dikelilingi banyak sekali bacaan meskipun menetap di desa paling ujung dari provinsi Jawa timur (ujung pangkah). Kalaulah tidak didukung dengan lingkungan dan bahan bacaan yang banyak, mungkin saya tidak akan tidak terlalu hafal menyebut majalah ataupun tabloit anak-anak pada masa itu.

Saya ingat pada masa itu sedang maraknya komik donal bebek & paman gober (adaptasi film garapan disney yang sangat populer kala itu), dragon ball, kungfu boy, conan edogawa dkk. Ada pula majalah mentari & bobo. Juga tabloid hopla & fantasi.

Masa kecil saya menjadi berwarna dengan hadirnya bacaan menyenangkan. Saya dibius oleh kata-kata dan anima-anima sejak kecil memang, kebetulan ketika ibu mengandung (saya) ayah sedang sangat getol mencari pekerjaan yang dianggapnya sangat menguntungkan. Disamping mendapatkan keuntungan secara finansial, ayah saya berpikir bahwa beliau bisa membaca secara gratis dan anak-anaknya juga nanti mendapatkan keuntungan bisa membaca banyak bacaan. Diputuskanlah pekerjaan-agen koran- menjadi pekerjaan utamanya.

Sekitar 24 tahun bertahan sebagai distributor di industri media massa, perubahan yang sangat signifikan perlahan kami sekeluarga rasakan pelan-pelan. Baik dari segi finansial ataupun minat baca pelanggan. Mengenai finansial biarlah itu menjadi bagian lain yang tak perlu dibahas, yang paling penting adalah urusan minat baca.

Bisa dibayangkan bagaimana gambaran 28 tahun lalu dengan kondisi desa yang masih sangat minim pencahayaan (ketika itu listrik belum masuk desa, menurut cerita ayah), apalagi masalah ilmu pengetahuan. Di tambah lagi kondisi geografi yang berada di pesisir pantai, ini sangat mempengaruhi kondisi demografi masyarakat kami pada saat itu, juga sekarang.

Masyarakat pesisir yang umumnya bermatapencahariaan sebagai nelayan atau penunggu tambak (empang), adalah masyarakat yang notabene memang tidak banyak yang memperhatikan urusan baca tulis. Kegiatan mereka sehari-hari cenderung lebih menitik beratkan pada perburuan hewan laut ataupun menunggu tambak untuk menghindari burung kuntul yang siap mencari mangsa kapan saja di atasnya.

Bisa dilihat bahwa masyarakat dahulu memang lebih menitik beratkan pada urusan perut untuk menghabiskan waktunya, hampir tak sempat memikirkan entah itu membaca ataukah menuliskan kata.

Kehidupan nelayan sudah cukup keras pada masa itu, para nelayan terus menerus menghadapi sapuan ombak setiap kali berlayar, bahkan nyawa menjadi taruhan.

Perjalanan Panjang Ibu

Dengan kereta malam kupulang sendiri.

Mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku.

Pada ayah yang menunggu, pada ibu yang mengasihiku.

Duduk di hadapanku seorang ibu. Dengan wajah sendu, sensu kelabu. Penuh rasa haru ia menatapku. Seakan ingin memeluk diriku.

Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya, yang telah tiada. Karena sakit dan tak terobati..ya wajahnya mirip denganku. Ya wajahnya mirip denganku…

Menyebut satu kata Ibu cukup membuat saya mengharu biru dibuatnya. Apalagi ketika mengingat segala hal tentang beliau, perempuan yang sangat berharga dalam hidup saya. Bukan hanya fisiknya yang membuat rindu, tetapi doa-doanya lah yang lebih-lebih sangat saya rindu ketika saya menyadari bahwa beliau sudah tidak lagi berada di antara kami.

Lagu perjalanan yang dinyanyikan oleh penyanyi Sarasvati adalah lagu favorit ibu kala itu. Saya tidak tahu kenapa beliau sangat menyukainya. Tapi belakangan saya mengingat bahwa ibu pernah mengatakan bahwa beliau sangat rindu dengan ayah dan ibunya (kakek dan nenek saya).

Kakek nenek terhitung sudah lama meninggalkan kami terlebih dahulu, sekitar sepuluh tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Entah kelas berapa tepatnya, saya lupa.

Perjalanan dalam kereta malam adalah favorit ibu. Dahulu beliau sangat ingin naik kereta, karena belum pernah sama sekali sejak sekolah hingga memiliki kami anak-anaknya. Keinginan itu baru bisa terpenuhi setelah mengunjungi saya yang kala itu kuliah di kota Gudeg, Yogyakarta pada tahun pertama. Ayah mewujudkan impian ibu naik kereta dalam perjalanan malam.

Memang tidak lagi terulang yang kedua kali, karena ketika hari wisudah saya tiba, beliau sudah tidak lagi bisa kemana-mana meskipun sebenarnya ayah sangat ingin mengajak ibu naik kereta yang kedua kalinya. Meskipun tak bisa hadir di hari wisudah tetapi bagi saya doa beliau sungguh tetap menggemah dalam sanubari rasanya.

Sepulang saya dari kota penuh kenangan, merawat dan menemani ibu menjadi prioritas utama saat itu. Ibu banyak bercerita kalau beliau sudah rindu pada ayah dan ibunya, ingin pulang ke kampung halaman.

Sering kali saya menahan kesedihan, setiap kali ibu bercerita tentang hal-hal yang sangat jauh. Meskipun harus tumpah ruah di atas sajadah ataupun bantal pada akhirnya, tetap ketika di hadapan beliau senyum di bibirlah yang harus terlihat.

Sudah hampir 4 tahun ibu sakit, beliau harus bolak balik ceck up dari puskesmas lalu di rujuk ke rumah sakit kota. Kondisinya semakin hari tidak bisa membaik, kesedihan tampak sekali di wajah cantiknya. Tetapi bukan ibu jika tidak bisa menyembunyikan jutaan air matanya. Seluruh ibu di dunia selalu begitu.

Aku yang seringkali menangis di sudut kamar, ketika makan, saat melihat beliau sholat tak mampu membendung kesedihan. Tak ada teman perempuan bercerita kala itu. Karena sayalah anak perempuan ibu seorang, semua saudara laki-laki.

Hampir sepuluh hari di rumah sakit, delapan hari di UGD baru hari ke-9 beliau mendapatkan kamar. Itupun paling ujung, karena banyaknya pasien hari itu.

Selepas sholat dhuhur dan menyuapi beliau makan, beliau meminta didudukkan hampir mengulang tiga kali. Saya menurutinya. Dalam posisi duduk ibu memeluk saya erat, bahkan sangat erat. Saya tidak benar-benar paham kala itu, bahwa itu adalah pamit ibu untuk terakhir kalinya.

Saya sama sekali tak bisa mengeluarkan air mata. Hanya terpaku sambil terus menyebut nama-Nya dalam hati, agar saya diberi banyak ketabahan.

Beberapa bulan sepeninggal ibu, saya menemukan pesan yang bersahaja dengan tulisan tangan yang hampir menyerupai tulisan ayah. Pesan itu ditulisnya untuk saya;

Untuk anakku yang cantik

Cantik bisa dirangkaikan dalam beberapa hal:

1. Jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan shalat (yang lima waktu + sunnah).

2. Jagalah kehormatanmu sebagai seorang wanita,apabila kamu bisa menjaganya. Kata ibu! Masih berharga dirimu dibanding harga emas berlian.

3. Jalankan amalan-amalan yang diberikan oleh kyai, karena itu merupakan pondasi untuk bekal hidupmu nanti dimana kamu melangkah. Apabila dunia porak poranda, kalau tidak kuat iman dan taqwanya bisa terjerumus ke lembah kenistaan.

4. Jagalah nama almamater, yakni: nama pondokmu dan nama sekolahmu tempat kau huni selama kamu mencari ilmu.

5. Jaga kesopanan dalam berbicara, bergaul dan memberikan sesuatu kepada anak-anak dan masyarakat di tempat kamu berada.

Saya yakin cinta ibu sungguh luar biasa. Saya terseduh sedan membacanya, ada banyak pesan yang sesungguhnya saya abaikan selama ini, atau bahkan belum bisa saya penuhi sama sekali. Padahal semua pesan itu untuk kebaikan saya sendiri.

Maafkan putrimu bu.

Kini doa putrimu tidak akan henti dihadiahkan untukmu. Meski puteimu yakin doanya tidak mungkin dapat menandingi doa-doa mustajab mu.

Jika suatu hari keberuntungan memihakku, pastilah itu doa-doamu yang sedang dikabulkan oleh Tuhan untukku.

*salam sayang untuk ibu.

Pangkah, 16 April 2018

April yang Kartini

Setiap datang bulan April, sudah menjadi budaya bangsa kita merayakan hari Kartini. Bagi anak-anak perayaan kartini adalah moment menyenangkan karena mereka bisa (merias) jadi apa saja yang mereka senangi (bayangan dari cita-cita mereka kelak), baik mengenakan kostum polisi, polwan, suster, dokter, kyai, kemanten jawa, pakaian adat nusantara bahkan kostum petani lengkap dengan capilnya (topi pak tani). Tanpa terbersit dalam benak anak-anak, mengapa dan bagaimana sejarah Kartini (maklum, namanya juga anak-anak 😃) yang penting bahagia, ramai, banyak penjual jajanan dan diiringi drumband yang menjadi tontonan seru di desa-desa, ini biasa disebut karnaval hari Kartini.

Ketika memasuki SMA, barangkali karnaval hati Kartini tetap diikuti oleh sebagian besar remaja usia belasan tahun. Mereka mulai menyerap pengetahuan “siapa Kartini”, biasanya ini didapat dari penjelasan bapak dan ibu guru dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. Mereka mulai sedikit melek, tentang kisah perjuangan Kartini bagi perempuan pribumi pada masa itu. Tanpa penyangkalan ataupun kritik, misalnya, kenapa harus Kartini? Kenapa tidak nama yang lain saja? Apa sebegitu penting perannya? Siapa dia? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Meski tanpa kritik dari dalam diri, paling tidak, saya yakin di usia pubertas remaja SMA sudah mampu menghayati sebuah perjuangan seseorang yang disebut sebagai pahlawan, (jika hati mereka mudah tersentu dan tidak bersikap masa bodoh). Bahkan dengan lagu kebangsaan yang selalu dilantunkan ketika hari Kartini tiba, seorang remaja bisa memiliki gambaran siapa Kartini;

Ibu kita Kartini, putri sejati

Putri Indonesia, harum namanya

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

Tergambar jelas dalam lagu tersebut, siapa sosok Kartini. Perempuan yang memang layak untuk disebut-sebut namanya sebagai pahlawan nan harum namanya.

Ini lain halnya ketika seorang remaja memasuki jenjang usia dewasa. Terhadap Kartini, bisa saja ia tidak ingin pengetahuannya sampai di situ saja. Ia harus menemukan banyak hal kalau ingin apa yang dilakukannya mendasar.

Maka harus ada banyak literatur yang dibacanya untuk mengetahui siapa sosok perempuan yang menjadi “putri mulia” tersebut. Itu terjadi pada diri saya sejak beberapa bulan yang lalu😊, bukan karena mendekati momentum ataupun apa, tetapi kebetulan buku setebal 600 halaman yang berisi surat-surat Kartini itu muncul (ketika saya mengobrak-abrik kardus buku) di sela-sela buku lain yang menggoda saya untuk menghabiskannya meskipun tidak bisa sekali waktu.

Membaca surat-surat Kartini yang begitu panjang, saya tidak bisa berhenti ketika sudah sampai pada statemen-statemen pribadinya tentang pendidikan. Saya terus mencoret-coret bagian penting yang bagi saya sendiri bisa menjadi “self reminder” kalau kata generasi milenial sekarang.

Kalaupun sekarang sudah banyak sekali bertebaran di media sosial tulisan tentang kata-kata bijak ataupun quotes, menurut saya membaca manuskrip surat-surat Kartini lebih menggoda sama sekali. Saya membayangkan betapa hebat pemikiran perempuan yang baru berusia belasan tahun ini, di zaman itu, dengan kondisi sosial yang seperti itu, pemikiran dan tulisannya bisa dianggap penting hingga hari ini.

Pepatah “lain lubuk lain belalang, lain dahulu lain sekarang” mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi zaman Kartini dengan perempuan milenial sekarang. Zaman Kartini adalah zaman penuh penolakan terhadap ide-ide yang datang dari seorang perempuan, bahkan ibunya sendiri menolak tegas sikap Kartini. Sedangkan milenial adalah zaman di mana perempuan bisa menuangkan seluruh idenya tanpa berhadapan dengan banyak penolakan.

Dalam suratnya Kartini bercerita tentang kekhawatiran ibunya sekaligus penolakan akan sikap Kartini, ia menuliskan;

“Tetapi tahukah kamu, bahwa segala permulaan itu sukar, bahwa setiap orang yang merintis jalan selalu bernasib susah? Bahwa ketiadaan pengakuan, rasa kecewa yang bertubi-tubi, cemooh yang menantimu; apakah kamu tahu semua hal itu?”

“Saya tahu! Bukan hari ini atau kemarin saja buah pikiran itu timbul pada saya, telah bertahun-tahun hak itu terkandung dalam diri saya”, jawab Kartini.

“Dan apakah kebaikannya bagi dirimu sendiri? Akan puaskah hatimu, akan bahagiakah kamu?” Ibundanya terus saja khawatir.

Tetapi dengan tegas Kartini menjawab;

“Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang; jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendul, licin,….belum dirintis! Dan walupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan; saya akan mati bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turut membantu meneratas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputra. Saya akan sangat puas, apabila orang tua anak-anak perempuan lain yang juga hendak berdiri sendiri, tidak akan lagi dapat mengatakan: ” masih belum ada seorang pun di antara kita yang telah berbuat demikian”.

Sama sekali tidak terdapat keragu-raguan dalam kata-katanya. Saya sempat terkesimah dan penasaran untuk terus membuka halaman satu ke halaman berikutnya. Dari buku itu selama banyak tahun keraguan saya terjawab sudah.

Ah, setelah membaca kumpulan surat-surat itu saya menjadi legah. Saya menjadi tahu dan sedikit membayangkan dualisme sikap orang tua zaman dahulu dan sekarang.

Ibu dari Kartini khawatir; belum ada seorang pun di antara kita yang berbuat demikian.

Ibu kita semakin khawatir ; justru karena belum ada yang berbuat demikian kamu harus mengawalinya.

Salam Emansipasi!

😊😊